PROLOG

Dari sekian banyak garis hidup manusia yang Kau tentukan, mengapa garis hidupku yang Kau buat berliku?. Mengapa tak Kau buat lurus saja?. Mungkin tanganMu tidak akan terlalu lenguh jika dibandingkan harus membuat garis-garis itu jadi berpusing.

Hidupku begitu serabut!!. Aku kerap kali mengutuknya. Kau pasti bosan mendengar hatiku menjerit mencakar setiap relung dalam benak. Mereka kata Kau pasti mendengarnya. Adakah betul?. Aku perlukan bukti, bukan hanya harapan palsu semata.

Begitu banyak nama dalam hidupku,begitu juga wajah. Aku menjadi gila kerana mereka semua tetapi seolah-olah hanya aku sendirian di dunia. Semua nama itu, semua wajah itu, tak ada satu pun yang mampu mengangkatku dari lembah kosong menyedihkan ini. Banyak cerita kehidupan mereka yang kuketahui dan sebanyak itu pula ketidakbahagiaan yang pada akhirnya membutakan fikiranku. Kamu semua berjaya….dan Kau, pengarah dari kisah hidupku, menuliskan aku GAGAL.

Aku sedang berada di persimpangan, melangkah ke mana saja tak ada yang baik buat diriku. Maju, terlalu banyak pilihan yang berhujung ketidakpastian. Mundur?.Hah?. Mundur?. Lihatlah, masa laluku dipenuhi tangisan. Ke kanan?. Tak ada jalan. Ke kiri?. Sama saja. Aku harus ke mana?. Cuba tunjukkan!. Terlalu gelap di sini!!. Gelap ya…..KEGELAPAN!. Kami bersahabat baik. Ouh, Kau sungguh baik membuat kami berdua terus menerus bersama sehingga ke saat ini.

Mengapa Kau yang Maha Adil membuat ketidakadilan dalam hidupku?. Apa salahku?. Bahkan, sejak kali pertama menghirup nafas di dunia pun aku telah ditakdirkan menjadi anak yang ’salah’. Apakah Kau tidak bosan membuatku terus menerus menjadi sesuatu yang salah?. Aku bosan!!. Sungguh aku ingin benar-benar berteriak; berteriak kepada sesiapa pun yang membuat hatiku dipenuhi rasa iri, kecewa dan ketidakbahagiaan.

Pada kenyataannya, aku hanya berteriak kepadaMu kerana mereka kata hanya Kau yang akan mengerti itu. Apakah telingaMu pekak atas teriak-teriakkan aku?. Dulu, mungkin aku berteriak meminta belas kasihanMu tapi kini teriakanku telah menjadi pasukan perang. Maaf jika Kau tersinggung atas ini. Inginku hanya satu; Kau lekas muncul dan membuat segalanya menjadi terang.

Aku ingin berkawan dengan cahaya dan segala nyanyian merdu. Suara sumbang hatiku, persahabatanku dengan kegelapan kian lama kian membuatku mual hingga rasanya ingin mati saja. Oh benar juga, kenapa Kau tak ambil saja nyawaku ini?. Aku bosan terus menerus memendam marah. Aku lelah menjadi minoriti yang selalu tertindas.

Aku iri pada kehidupan mereka. Sekalipun hidup mereka pernah tidak bahagia, lagipun akhirnya mereka semua menemukan kebahagiaan. Sedangkan aku?. Tak ada harapan……….

Iman Suhaila

KLIK LINK DI BAWAH :

https://bukubook.com/wp-content/uploads/2021/04/RASUK.pdf