Prolog

Anjing yang menyalak dari kejauhan membelah suasana sunyi jalan raya di malam yang dingin itu. Jam di balai pengawal penjaga pintu kereta api menunjukkan pukul dua belas malam. Sinaran lampu jalan berwarna kuning dan putih melorot sepanjang jalan kelam tersebut. Sementara itu, dari kejauhan terdengar bunyi bel, menandakan bahawa sebentar lagi kereta api dari Johor akan melintas di rel besar tersebut.

Lelaki tinggi lampai dengan badan yang sasa itu menaikkan topi jaket hitamnya. Dia berjalan sambil berdeham, menahan angin yang mulai menembus kain tebal yang dipakainya. Sepasang kasut putihnya bergesekan dengan jalan berkerikil. Sejak tadi dia belum terserempak dengan sesiapa pun kecuali hanya ada beberapa orang yang sedang bermain kad di gudang perumahan elit sebelah.

Beberapa langkah di depan sana, seorang pengawal penjaga palang pintu kereta api tampak bersiap sedia menyambut kedatangan kereta api yang terakhir pada malam itu.

Langkah lelaki itu terhenti sejenak. Sepasang telinganya menangkap sayup-sayup bunyi langkah ringan. Namun seiring dengan langkahnya yang terhenti, sayup-sayup langkah ringan di belakangnya juga turut berhenti.

Lelaki berambut lurus panjang separas leher itu melanjutkan perjalanannya dengan enggan. Bunyi itu terdengar lagi. Lelaki tersebut berhenti lagi dan bunyi yang mengikutinya juga berhenti.

Merasa kesal, lelaki itu menghentikan langkahnya cukup lama di dekat palang pintu kereta api. Sepasang matanya merenung ke balai pengawal yang hanya diterangi lampu samar. Dia diam di pinggir jalan, menunggu tanpa berniat membalikkan kepala.

Beberapa minit berikutnya, tetap tidak ada sebarang reaksi. Bunyi langkah ringan yang mengikutinya tidak terdengar lagi. Lelaki itu kesal, merasa dipermainkan. Dia memutuskan untuk berdiri lebih lama lagi.

Minit demi minit dilalui……tetap tidak ada reaksi di belakangnya.

Tiba-tiba bulu romanya tegak berdiri, meremang. Kata kawan-kawannya, kononnya di situ sering terjadi peristiwa bunuh diri di palang pintu tersebut. Kebanyakan mangsa bunuh diri adalah perempuan.

Lelaki berkulit cerah itu mengusap dahinya. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, dia memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Lagipun kalau bunyi itu terdengar lagi, dia akan menghitung di dalam hati sampai kiraan ketiga-lalu melarikan diri secepat yang boleh.

Belum sampai lima langkah dia menapak, sepasang telinganya menangkap sayup-sayup bunyi tangisan pilu. Sekarang, bukan hanya dahinya saja yang berpeluh, ada sentuhan aneh di sepasang lengannya yang ditutup oleh jaket panjang berwarna hitam.

            ”Hu………….huu…….hu…….” Suara tangisan serak dan menyayat hati terdengar jelas. Lelaki itu memutuskan untuk mempercepat langkah. Semakin cepat dia melangkah, tangisan itu terasa seolah-olah mengikutinya dari belakang.

Lelaki itu berhenti. Dengan segenap keberanian, dia memusingkan kepalanya, ingin memastikan kelibat seperti apa yang sejak dari tadi mengikutinya.

              ”Hu………huuuuuu…….huu……” Suara tangisan itu terdengar semakin jelas.

Sepasang mata lelaki tersebut membulat. Namun, bukan rasa takut yang membuatnya membulatkan mata melainkan rasa kesal. Di belakangnya, seorang wanita berambut lurus sehingga ke paras punggung sedang berdiri dengan kepala tertunduk. Sepasang lengan kurus wanita itu terletak lemas di sisi jahitan bahu. Wanita tersebut mengenakan gaun labuh berwarna merah. Bahunya naik turun. Dia menangis.

Lelaki itu terpaku. Sampai sekarang dia tidak pernah tertarik dengan wanita yang menangis. Wajah wanita yang menangis itu hodoh. Emosinya pun turun naik dan itu sangat menyakitkan hati. Bukannya bersimpati, dia hanya mendengus kesal menghadapi wanita berambut panjang itu. Wanita itu sudah membuat perjalanan pulangnya terganggu- dengan membuatnya takut dan memaksa menghentikan langkah.

               “Kau salah orang kalau ingin mencari simpati.” Suara rendah lelaki tersebut bergema.

Wanita itu diam. Beberapa detik setelah dia mendengar perkataan tanpa simpati itu, suara tersedunya keluar lagi dari bibirnya.

                “Aku hanya kesepian.”

KLIK LINK DI BAWAH :

https://bukubook.com/wp-content/uploads/2021/04/DEVILS-GAME.pdf